Saat kecintaan akan hal-hal duniawi mengalahkan kepentingan akhirat

18 Juni 2010

Hari ini, tim favorit saya di piala dunia sedang berlaga. Sejak tahu 2002, saya tidak pernah melewatkan permainannya di piala dunia maupun piala eropa. Saya selalu meluangkan waktu, mengatur jadwal, agar tidak melewatkan timnas Jerman unjuk kekuatan. Saya selalu setia mendukung tim sepakbola Jerman.

Tapi hari ini, saya melewatkan pertandingan Jerman melawan Serbia karena macet, saya baru sampai kosan jam 7 lebih. Masih sempat memang untuk menonton, masih tersisa satu babak. Tapi  saya memutuskan untuk tidak menonton. Bukan karena Miroslav Klose kena kartu merah, bukan karena gawang Jerman kebobolan, melainkan karena saya sedang menghukum diri sendiri, menegur diri sendiri.

Saya menghukum diri sendiri karena saya lebih kecewa melewatkan pertandingan sepakbola daripada sholat maghrib saya, saya terpaksa mengjamak sholat maghrib karena baru sampai kosan selepas isya’. Saya menegur diri sendiri karena selama perjalana saya selalu membayangkan pertandingan sepakbola, berapa skornya, bagaimana permainannya, bukan karena waktu yang terus bergulir meninggalkan waktu maghrib. Saya menangisi diri saya sendiri karena hati saya mulai membatu dan lebih tertarik pada hal-hal duniawi.

Bukan negara Jerman yang memberikan saya hidup, meminjamkan saya organ-organ tubuh secara gratis, menaburkan rizki, membagi kebahagiaan bagi saya. Lalu kenapa hati saya lebih mengutamakannya daripada janji saya kepada Tuhan saya, Allah SWT? Seluruh anggota timnas Jerman tidak ada yang mengenal saya, peduli pada saya, tidak ada yang menganggap saya ada. Lalu kenapa saya lebih mementingkan untuk memementingkannya daripada Zat Yang Telah Memberikan Saya Kehidupan?

Sungguh saya sedih, saya kecewa pada diri sendiri. Saya malu pada Allah SWT karena telah menomorduakan-Nya. Saya merasa menjadi manusia yang tidak tau berterimakasih, durhaka. Sungguh saya merasa sangat malu kepada hati saya yang tidak bisa memprioritaskan. Selama ini saya selalu meminta, memohon, berdoa ini dan itu, tapi tak memenuhi kewajiban saya dengan baik. Saya merasa malu sekali.

Oleh karena itu saya menghukum diri saya sendiri dengan tidak menonton pertandingan Jerman vs Serbia malam ini. Toh saya tidak akan mati, tidak berdosa jika melewatkannya. Semoga dengan begini saya bisa mulai memilah kepentingan duniawi dan akhirat saya. Semoga saya bisa memprioritaskan yang seharusnya. Dan semoga Allah SWT mau memaafkan dan menuntun hati saya agar tidak berpaling dari-Nya. Amin.

2 pemikiran pada “Saat kecintaan akan hal-hal duniawi mengalahkan kepentingan akhirat

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s