Manusia pengejar (atau dikejar?) deadline

(Post ini ditulis tanpa maksud mengdiskreditkan, menyinggung, ataupun menyalahkan seseorang. Semua yang saya tulis di sini hanyalah sebuah opini. No offense, Dude. Kita punya cara pikir kita sendiri-sendiri.)

Musim apa sekarang di daerah kalian? Musim hujan? Musim durian? Kalau di kampus saya sekarang sedang musim KTTA. Mahasiswa tingkat tiga akuntansi, sedang disibukkan oleh KTTA, Karya Tulis Tugas Akhir. Untungnya punya saya sudah selesai dan dikumpulkan di sekretariat. Saya sudah bisa kembali hidup normal, setidaknya sebelum penilaian KTTA, UAS terakhir, dan Ujian comprehensive memenuhi jadwal saya.

Bukan KTTA saya yang akan saya bahas di tulisan ini, tapi saya hanya ingin berkomentar, beropini tentang sebuah fenomena tahunan yang terjadi di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara ini.

Batas terakhir pengumpulan KTTA adalah Jumat, 11 Juni 2010, dua hari lagi. Oleh karena itu tidak heran kalau sebagian besar mahasiswa tingkat tiga akuntansi terkuras perhatiannya oleh KTTA. Di mana-mana seperti itu, kelas saya, kos saya, semua fokus pada KTTA. Sekretariat memang telah mengeluarkan kebijakan bahwa mahasiswa dapat mengajukan pengunduran pengumpulan KTTA. Setidaknya bagi yang datanya masih simpang siur, dosennya susah ditemuin, proses penulisan KTTAnya mengalami berbagai hambatan, masih bisa bernafas lega. (Semangat ya Teman-teman! Pasti selesai kok! Kita pasti lulus tahun ini (amin).)

Saya sendiri adalah jenis manusia yang suka menunda-nunda, suka mengerjakan sesuatu di detik-detik terakhir, saya berteman dekat dengan deadline dan sering maen kejar-kejaran. Prinsip saya: Otak kamu akan bekerja maksimal jika berada di bawah tekanan. Sebuah teori bodoh memang, hanya proses rasionalisasi bagi orang-orang yang suka menunda-nunda. Tapi sepertinya tidak hanya saya yang seperti itu.

Walaupun sangat suka menunda-nunda pekerjaan, saya tetap berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan saya tepat waktu, sebisa mungkin tidak meminta perpanjangan waktu. Alhamdulillah kali ini saya berhasil, sesuai target saya, 9 Juni 2010 sudah dikumpulkan ke sekretariat (deadline pertama memang 9 Juni). Saya beruntung tidak menemukan hambatan berarti.

Beberapa teman saya juga tengah berkejaran dengan deadline. Mereka berusaha keras untuk menyelesaikannya sesuai target. Sebisa mungkin tidak meminta perpanjangan waktu. Beberapa lainnya terpaksa meminta perpanjangan waktu. Teman kos saya terpaksa mengundurkan jadwal karena dosennya tidak bisa ditemui sampai hari Senin depan. Kenalan saya terpaksa mengajukan pengunduran karena baru mendapat data perusahaan, dia berusaha menyelesaikan kttanya sebelum deadline, tapi secara realistis itu sulit karena masih ada revisi-revisi yang harus dihadapi. Beberapa lainnya harus melakukan kontijensi, ganti judul, mulai dari awal, dan terpaksa mengajukan pengunduran waktu.

Yang saya tahu mereka terpaksa mengajukan pengunduran jadwal. Yang saya tahu, mereka sebenarnya ingin menyelesaikan KTTA ini sesuai target. Tapi banyak hambatan yang membuat mereka harus mengaturulang jadwal. Dan saya hanya bisa memberi semangat dan doa pada mereka.

Yang membuat saya sedikit berpikir dan menulis post ini, adalah orang-orang yang mengajukan pengunduran jadwal pengumpulan KTTA hanya karena mereka malas, karena mereka lebih suka melakukannya dan berpikiran “kalau bisa memperpanjang deadline, kenapa tidak?”. Memang bukan hak saya menghakimi, tapi saya tidak bisa menyuruh otak saya berhenti berpendapat. Saya hanya sedikit, ehm… (apa y?) merasa tidak sreg dengan cara berpikir mereka. Memang mereka bebas berpikir, tapi saya juga bebas kan berpendapat? Jadi tolong jangan tersinggung jika orang-orang yang merasa kebetulan membaca tulisan ini.

Saya merasa sedikit prihatin, bersimpati pada cara berpikir mereka. Kenapa tidak menyelesaikan tepat waktu jika memang bisa? Kenapa tidak mau berusaha lebih keras? Semua orang pasti merasa malas, tidak menemukan ide, bingung, saya juga begitu. Tapi bukankah kita masih bisa berusaha. Buktinya saya bisa. Buktinya cowok saya bisa. Buktinya banyak yang bisa.

Buat saya, orang-orang seperti itu adalah orang yang pesimis. Dia tidak percaya akan kemampuannya. Dia tidak mau berkerja keras. Dia egois, kekanak-kanakan. Yang dipikirkan hanya kepentingannya pribadi, tidakkah dia memikirkan berapa orang yang direpotkan hanya untuk keperluannya yang tidak penting itu. (Bukan bermaksud menghina ataupun menjelekkan, tapi saya butuh wadah untuk berpendapat. Dan saya harap kalau ada orang yang berpikiran seperti yang saya maksud membaca  tulisan ini, dia jadi sadar dan mengurungkan niatnya.)

Ironis rasanya, saat tahu banyak teman saya yang berusaha menyelesaikan KTTA sesuai jadwal tapi terpaksa mengundurnya karena berbagai kendala, sedangkan di lain pihak ada orang yang menundanya hanya karena alasan-alasan tidak material, hanya karena malas, hanya karena ingin senang-senang. Itu sama saja lari dari tanggung jawab. Tapi seberapa kencangpun kita lari, pada akhirnya kita akan bertemu lagi dengan tanggung jawab itu kan?  Jadi kenapa tidak mengerjakannya sesuai harapan? Saya jadi kehilangan respect. Dan semoga saya g bakal pernah jadi seperti itu. Walau suka menunda-nunda, saya akan berusaha memenuhi tanggung jawab saya tepat waktu kok.

Yah, intinya sih semoga KTTA kita semua selesai. Kita bisa lulus semua. Maaf kalau ada beberapa orang yang tersinggung, mungkin saya memang pengecut tidak membicarakannya lansung. Saya hanya ingin berpendapat kok.

Kalau memang bisa selesai tepat waktu, kenapa harus menundanya lebih lama? Bukankah ditunda-tunda selama apa pun ujung-ujungnya tetap harus diselesaikan?


2 pemikiran pada “Manusia pengejar (atau dikejar?) deadline

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s