Ketika akhirnya kamu berhasil mencintai apa adanya

Saya sudah merasakannya, setidaknya saya sudah beranggapan bahwa saya sudah dan sedang merasakannya. Dan rasanya sangatlah *saya tidak dapat menemukan definisi yang tepat* yah sebut saja menyenangkan, bahagia. Setelah pertengkaran kami kemarin  -sebuah pertengkaran yang lumayan rumit sehingga saya sempat mati rasa, sempat berpikir untuk mengakhiri semua- saya belajar banyak. Akhirnya saya sampai di sebuah kompromi akhir, sebuah penerimaan.

Saya sudah tidak peduli lagi kalau cowok saya tidak dapat bersikap romantis. Saya tidak mempermasalahkan sikap cowok saya yang cenderung pasif. Saya sudah menerima apa adanya. Memang begitulah dia. Memang seperti itulah dia seharusnya. Dan kalau saya tidak bisa mencintainya seperti apa adanya dirinya sekarang, berarti saya tidak pantas untuk dia. Dan nyatanya saya mampu, saya sanggup menerima.

Saya sudah berhenti iri pada teman-teman saya yang seringkali mendapat puisi, lagu dan semacamnya dari cowoknya, kalau cowok saya tidak romantis memangnya kenapa? Saya sudah tidak cemburu lagi kalau teman saya mendapat kejutan-kejutan dari cowoknya, memangnya apa salahnya kalau cowok saya tidak kreatif? Saya sudah berhenti membanding-bandingkan. Menurut saya, tidak ada yang perlu saya ubah lagi dari dirinya. Kalaupun dia berusaha berubah, memperbaiki diri, saya ingin itu karena kemauannya sendiri, karena cintanya pada saya.

Saya tidak peduli kalau cowok saya tidak sekeren cowok-cowok lain, menurut saya dirinya yang sekarang sudah cukup. Saya tidak ambil pusing kalau dia cuek dan pasif, bukankah itu justru mengimbangi saya yang sangat ekspresif? Saya benar-benar telah menerima, apa adanya.

Dan sejak saya berhasil menerimanya apa adanya. Entah kenapa saya merasa semuanya lebih indah untuk dijalani. Saya menjadi sangat optimis bahwa akan ada berpuluh-puluh tahun ke depan yang semoga akan kami lewati bersama. Setiap saat yang saya habiskan bersamanya tidak terasa sia-sia lagi. Saya menjalaninya tanpa beban, saya menikmati setiap detiknya, mensyukuri segalanya. Saya membiarkan semuanya mengalir apa adanya, saya hanya mengikuti arus.

Saya berhenti memintanya ini dan itu. Saya berhenti menuntutnya seperti ini dan itu. Saya merasa semua itu tak perlu. Saya benar-benar menerima, apa adanya. Dan justru sejak saat saya berhenti memaksa, kini dia sering melakukan hal-hal ‘manis’ yang dulu enggan dilakukannya. Dan karena saya sudah tidak memasang target atau mengharap berlebih, hal-hal tersebut menjadi berkali-kali lipat menyenangkan.

Ketika akhirnya kamu berhasil mencintai apa adanya, berhasil menerima dan berkompromi, di saat itulah kamu akan bahagia. Tidak akan ada beban yang memberatimu dan mengurangi kadar kebahagiaanmu. Semoga saja arus yang saya ikuti akan terus membawa kami ke samudra kebahagiaan.

Cintailah pasanganmu apa adanya. Saat kamu berhenti menuntut, saat itulah kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan. Keep fighting for your love!

Iklan

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s