Unidentified Sense

Ini hanya sebuah curhatan saya, tidak ada informasi penting apa-apa, jadi kalau anda tidak tertarik membaca silahkan tutup halaman ini.

Dulu saya sempat suka sama seseorang, kagum, salut. Kami juga sempat dekat, lumayan dekat sehingga kata teman sudah tidak cukup mendefinisikan hubungan kami. Sampai akhirnya perasaan ‘suka’ itu hilang dan kami menjalani hidup sendiri-sendiri. Sekarang kami berjauhan, tapi tetap berkomunikasi sebagai teman.

Saya benar-benar sudah tidak ada rasa apa-apa padanya. Apalagi kini saya sudah menemukan seseorang yang mengisi celah kosong di hati saya. Tapi entak kenapa, malam ini ketika dia bercerita bahwa dia sedang dekat dengan seseorang, ada suatu perasaan yang tidak teridentifikasi di hati saya. Ada sesuatu yang hilang. Tiba-tiba saya teringat waktu yang kami habiskan bersama, mimpi-mimpi yang kami punya, cerita yang kami bagi bersama. Ada sedikit rasa tidak rela. Sungguh egois memang, tapi saya tidak bisa menghindarinya.

Saya mulai bertanya-tanya. Tentang segala pilihan yang ada dan keputusan yang saya ambil. Saya penasaran apakah dia sempat merasakan hal yang sama saat tahu bahwa saya sudah tidak single lagi. Saya ingin tahu bagaimana perasaannya pada saya dulu, sekarang, dan nanti.

Saya bahagia dengan kehidupan saya yang sekarang. Pacar saya sangat baik dan saya tahu dia sangat menyayangi saya. Saya tidak pernah menyesal memilikinya, dia pacar terbaik yang bisa saya dapat dan sudah banyak rencana dan mimpi yang kami susun bersama. Tapi tetap saja saya tidak bisa menghindari perasaan ini, perasaan yang tidak teridenfikasi. Lagi-lagi saya tidak memahami hati saya sendiri.

Trying to Beat Sense of Vengeance

Saya mengenal diri saya cukup baik, saya tahu orang seperti apa saya, saya paham karakter saya sendiri, termasuk sifat-sifat buruk yang saya punya. Saya tahu menyimpan dendam itu tidak baik, lama-kelamaan dendam itu justru akan membusuk dan menggerogoti diri saya sendiri dari dalam, tapi sayangnya say amasih belum bisa menghilangkan sifat itu dari sudut gelap hati saya. Saya masih beranggapan bahwa jika ada orang yang menyakiti saya, maka saya punya hak untuk menyakitinya, jika ada yang membuat saya kecewa, maka saya harus membuat dia merasakan hal yang sama. Hutang mata dibayar mata, hutang darah dibayar darah. Kurang lebih begitu.

Memang sebuah sifat yang sangat buruk untuk dimiliki manusia. Saya sendiri sedang berusaha menghilangkannya. Terkadang berhasil, tapi ada beberapa hal yang masih belum bisa saya toleransi. Saya tidak suka kecewa, dan saya ingin membuat orang yang mengecewakan saya merasakan hal yang sama.

Tapi sayangnya, saat sedang membalas dendam pada seseorang kita tidak bisa lepas dari orang lain di sekitarnya. Menggagalkan rencana seseorang terkadang juga berarti menggagalkan rencana orang banyak, mengecewakan orang banyak. Dan kemungkinan terburuknya adalah, terkadang orang yang kita maksud justru tidak sadar bahwa kita sedang dalam “misi balas dendam”.

Tidak baik memang menyimpan dendam. Sama seperti iri dan dengki, sifat ini akan menjadi benalu yang memakan hati perlahan-lahan. Membuatnya perih, pedih, sakit dan kemudian mati. Kalau hendak menjadi seorang pendendam, maka bersiaplah untuk mengalami kematian nurani, kehilangan kebahagiaan. Menjadi seorang pendendam akan membuatmu terus merasa iri, terus mengungkit-ngungkit masalah yang telah berlalu, dan akhirnya akan membuatmu terlalu sibuk membalas dendam sehingga tidak dapat menikmati hidup. Menjadi seorang pendendam akan mengubahmu menjadi makhluk super egois yang tidak pandang bulu lagi, hanya untuk membalas dendam pada seseorang, kau akan melukai banyak orang lainnya.

Tidak ada gunanya menjadi seorang pendendam. Oleh karena itu saya ingin berhenti menyimpan dendam. Tulisan ini kan saya jadikan pengingat bagi hati saya saat sifat buruk itu perlahan pulang. Saya lelah menjadi pendendam. Setiap orang pasti akan mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan atas segala perbuatannya, tidak perlu kita yang membalasnya.

Menjadi seorang pendendam akan menjadikan kita seorang pembenci. Dan Tuhan membenci seorang pembenci. Oleh karena itu, saya akan berhenti membenci. Tidak perlu benci seseorang juga dibalas dengan benci kan?

Split the sky

Saya suka melihat kilat, mengagumi kelebat petir yang membelah langit. Saya senang melihat langit menyala-nyala, berkilau-kilau. Saya selalu terpesona saat melihat petir menyambar, kilaunya bercabang-cabang membentuk garisan ranting-ranting cahaya. Tapi saya benci beberapa detik kemudian saat langit mulai menderu. Saya tidak suka suara gelegarnya yang menulikan telinga.

Saya suka kemilau petir, tapi tidak suka derap langkahnya. Bunyi petir selalu memberi kesan pada saya bahwa langit akan runtuh,. Oleh karena itu saya selalu bersembunyi di balik selimut, mencoba tidur untuk melupakan suara-suara kematian itu. Saya lebih memilih melewatkan kesempatan mengagumi ranting-ranting cahaya itu daripada harus mendengar suara petir.

I love lightning, but not the thunder…

When the fear beat you..

Setiap orang pasti punya rasa takut, kekhawatiran, rasa pesimis akan kemampuannya sendiri dalam menghadapi risiko yang menunggunya di ujung jalan, tapi bukan berarti dia harus berhenti atau malah melangkah mundur, menghindari tantangan yang menantinya. Setiap  orang dianugrahi nalar, insting, dan kemampuan bertahan hidup, oleh karena itu seharusnya dia tidak boleh menyerah dan takluk begitu saja pada ketakutannya. Setiap orang seharusnya mencari jalan keluar, mencari cara memecahkan masalah yang dihadapinya, setidaknya dia harus berusaha, mencoba semampunya.

Paranoid memang sebuah bagian dari sikap manusiawi, tapi tidak seharusnya seorang manusia dikalahkan paranoianya, dialah yang harusnya mencari cara untuk menang dan mempencundangi rasa takut yang membayang-bayanginya. Kita tidak akan pernah tahu apa yang berada di balik batu besar yang menghalangi jalan kalau kita tidak mencari cara untuk menyingkirkannya. Kalaupun yang bersembunyi di balik batu itu ternyata adalah masalah yang lebih besar, maka sebagai manusia kita harus mencari cara untuk menyingkirkan masalah itu. Begitu seterusnya. Karena kita adalah manusia yang  diberi insting untuk berkompetisi dan pantang menyerah, kita harus mengalahkan segala masalah yang menghadang kita. Selalu ada hal baik yang tersimpan di balik hal-hal buruk, dan untuk menemukannya kita harus terus mencari.

Mungkin memang tidak semudah teorinya, tapi cobalah untuk selalu berpikir positif. Berpikir positif bukan berarti lengah, kita tetap bisa bersikap waspada dan hati-hati. Yakinlah bahwa segala usaha yang kita lakukan untuk mengalahkan ketakutan kita tidak akan sia-sia. Semua ada imbalannya. Jangan sampai kita menyesal hanya gara-gara tak punya cukup keberanian untuk menghadapi segala rintangan. Jangan sampai kita berbalik mundur dan bersembunyi sehingga kehilangan kesempatan untuk merasakan keindahan dari suatu perjuangan.

Never let the fear beat you or you will regret it.

Saat kecintaan akan hal-hal duniawi mengalahkan kepentingan akhirat

18 Juni 2010

Hari ini, tim favorit saya di piala dunia sedang berlaga. Sejak tahu 2002, saya tidak pernah melewatkan permainannya di piala dunia maupun piala eropa. Saya selalu meluangkan waktu, mengatur jadwal, agar tidak melewatkan timnas Jerman unjuk kekuatan. Saya selalu setia mendukung tim sepakbola Jerman.

Tapi hari ini, saya melewatkan pertandingan Jerman melawan Serbia karena macet, saya baru sampai kosan jam 7 lebih. Masih sempat memang untuk menonton, masih tersisa satu babak. Tapi  saya memutuskan untuk tidak menonton. Bukan karena Miroslav Klose kena kartu merah, bukan karena gawang Jerman kebobolan, melainkan karena saya sedang menghukum diri sendiri, menegur diri sendiri.

Saya menghukum diri sendiri karena saya lebih kecewa melewatkan pertandingan sepakbola daripada sholat maghrib saya, saya terpaksa mengjamak sholat maghrib karena baru sampai kosan selepas isya’. Saya menegur diri sendiri karena selama perjalana saya selalu membayangkan pertandingan sepakbola, berapa skornya, bagaimana permainannya, bukan karena waktu yang terus bergulir meninggalkan waktu maghrib. Saya menangisi diri saya sendiri karena hati saya mulai membatu dan lebih tertarik pada hal-hal duniawi.

Bukan negara Jerman yang memberikan saya hidup, meminjamkan saya organ-organ tubuh secara gratis, menaburkan rizki, membagi kebahagiaan bagi saya. Lalu kenapa hati saya lebih mengutamakannya daripada janji saya kepada Tuhan saya, Allah SWT? Seluruh anggota timnas Jerman tidak ada yang mengenal saya, peduli pada saya, tidak ada yang menganggap saya ada. Lalu kenapa saya lebih mementingkan untuk memementingkannya daripada Zat Yang Telah Memberikan Saya Kehidupan?

Sungguh saya sedih, saya kecewa pada diri sendiri. Saya malu pada Allah SWT karena telah menomorduakan-Nya. Saya merasa menjadi manusia yang tidak tau berterimakasih, durhaka. Sungguh saya merasa sangat malu kepada hati saya yang tidak bisa memprioritaskan. Selama ini saya selalu meminta, memohon, berdoa ini dan itu, tapi tak memenuhi kewajiban saya dengan baik. Saya merasa malu sekali.

Oleh karena itu saya menghukum diri saya sendiri dengan tidak menonton pertandingan Jerman vs Serbia malam ini. Toh saya tidak akan mati, tidak berdosa jika melewatkannya. Semoga dengan begini saya bisa mulai memilah kepentingan duniawi dan akhirat saya. Semoga saya bisa memprioritaskan yang seharusnya. Dan semoga Allah SWT mau memaafkan dan menuntun hati saya agar tidak berpaling dari-Nya. Amin.