Patah

Belum pernah saya merasa sesakit ini, seluka ini, sepedih ini. Mungkin kekecewaan saya terlalu besar sehingga saya terlalu takut untuk berharap lagi, untuk berusaha. Saya sudah terlalu lelah untuk memperbaiki, sudah terlalu letih. Saya sudah sampai di titik labil, saya ingin menjadi apatis saja. Karena semua usaha yang saya coba tidak ada artinya, lebih baik saya diam saja.

Mungkin memang salah jika saya terlalu banyak berharap, dan ketika saya melihat kenyataan yang 180 derajat berbeda, saya terjatuh dalam sekali, dan kini saya kesakitan. Dan mungkin sakit yang saya rasa terlalu berat, luka yang saya punya terlalu dalam, sehingga sistem kekebalan saya menutup paksa luka itu dan menonaktifkan saraf nyeri di hati saya. Hati saya mati rasa.

Saya tidak punya cukup keberrania untuk menengok ke belakang, ke rencana-rencana yang kami susun bersama *kebanyakan rencana saya*, ke tempat-tempat yang ingin kami kunjungi bersama, ke masa depan yang kami persiapkan bersama. Karena setiap kali saya  melihatnya kembali, saya pesimis semua itu akan tercapai. Saya tidak berani bermimpi terlalu banyak lagi, saya takut terluka lagi.

Saya selalu berusaha menjadi yang terbaik saya bisa. Saya ingin bahagia. Saya berusaha sekeras mungkin agar mimpi-mimpi kami terwujud. Saya berusaha kompromi. Saya selalu berusaha menerima. Saya terus berusaha dan berusaha. Tapi lelah rasanya ketika saya sadar bahwa hanya saya yang berusaha, hanya saya yang mencoba. Dana kini saya sudah tidak ingin menjadi yang terbaik lagi. Saya tidak bahagia lagi. Saya meragukan mimpi-mimpi itu. Saya tidak bisa kompromi lagi. Saya tidak bisa menerima lagi. Karena kalau saya berkompromi lagi, maka saya akan menghancurkan mimpi-mimpi saya yang saya susun dari kecil. Saya tidak akan bahagia.

Saya merasa patah. Lelah. Hilang rasa. Saya pesimis. Saya ingin menjadi apatis. Saya takut. Saya kehilangan tujuan. Terlalu banyak air mata yang saya buang bulan ini. Biasanya saya gadis yang tegar, tidak cengeng. Tapi pertahanan diri saya runtuh, satu-satunya jalan keluar yang sederhana hanyalah menangis dan kemudian menyembuhkan diri sendiri.

Saya hanya akan melihat saja apa yang terjadi beberapa hari ke depan. Kalau saya tak bisa menemukan rasa itu lagi. Kalau luka saya tak bisa menutup sempurna. Kalau saya masih takut bermimpi lagi. Maka semua ini memang harus berakhir tak sesuai dengan angan-angan kami.

Iklan

2 pemikiran pada “Patah

  1. Ping balik: j e r a « Tuaffi’s Weblog

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s