Little Miss Sunshine

Baru aja selesai nonton Little Miss Sunshine, mungkin memang bisa dibilang sedikit terlambat karena film ini dirilis 20 Januari 2006, 4 tahun lalu. Tapi saya tidak menyesal menontonnya, film ini layak untuk ditonton.

Little Miss Sunshin merupakan sebuah film indie dengan cerita yang ringan. Film ini bergenre drama-komedi dengan sutradara pasutri Jonathan Dayton dan Valerie Faris. Film yang skenarionya ditulis oleh Michael Arndt ini menceritakan sebuah keluarga dengan berbagai ketidaksempurnaan dan problematika yang ada.

Film ini menceritakan sebuah keluarga yang sedang dalam perjalanan mengantarkan Olive (abigail breslin) untuk mengikuti kontes kecantikan Little miss sunshine pageant. Ayah Olive, Richard (greg kinnear), adalah seorang motivator yang menciptakan teori 9 langkah menuju sukses, padahal dia sendiri sebenarnya adalah seorang yang gagal. Sang ibu, Sheryl (Toni Collete), adalah ibu rumah tangga biasa yang berusaha tetap menjaga keutuhan keluarganya yang penuh konflik. Kakak Olive, Dwayne (paul dano), adalah pengikut fanatik Nietzsche dan sedang puasa bicara sampai cita-citanya menjadi pilot pesawat jet tercapai. Frank (steve carrel), adik sheryl sekaligus paman olive, adalah seorang homoseksual yang baru saja sembuh dari usaha bunuhdirinya. sedangkan kakek Olive, Edwin (Alan Arkin) adalah seorang pencandu mesum.

berbagai rintangan dan konflik muncul selama perjalanan menuju California, tempat kontes Little miss sunshine diselenggarakan. dimulai dari penjualan mobil van mereka yang rusak, buku Richard yang gagal dan kenyataan bahwa mereka hampir bangkrut, kematian Edwin, kenyataan bahwa Dwayne buta warna dan tidak dapat menjadi pilot, dan akhirnya kegagalan Olive untuk menang.

sebuah cerita yang ringan dan sederhana, begitu dekat dengan kehidupan sehari-sehari. tapi justru itulah kita dapat belajar dari film ini tanpa merasa dihakimi. saya trenyuh ketika melihat endingnya, ketika oran-orang mengertawakan olive saat menari di babak pertunjukan bakat. seluruh anggota keluarganya terus mendukung dan menyemangati olive sampai akhir, dan memang begitulah seharusnya sebuah keluarga.

sebuah keluarga haruslah saling mendukung dan menyemangati, apa pun yang terjadi. sebuah keluarga harus menerima apa adanya. bukan justru ikut-ikutan mengecam dan mengucilkan. sebuah keluarga adalah tempat di mana kita bisa menjadi diri kita sendiri tanpa perlu khawatir akan tanggapan orang lain. ketidaksempurnaan masing-masing anggota keluarga adalah sebuah warna dalam kehidupan. justru itulah fungsinya keluarga, saling melengkapi.

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s