Aku ingin mencintaimu secara sederhana

‘Aku Ingin’ oleh Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..

Awalnya saya bingung ingin menulis apa. Otak saya sedang dalam masa kritis, miskin kreatifitas. Lalu secara tak sengaja saya membaca notes salah satu teman saya di facebook. Puisi itu terselip di notes tersebut. Dan akhirnya saya memutuskan berbagi tentang apa yang saya rasakan saat membaca puisi itu.
Entah kenapa, tiap kali membaca puisi itu mata saya berkaca-kaca. Saya terharu. Kata-kata yang dirangkai oleh Sapardi Djoko Damono begitu indah. Sangat indah. Saya bisa merasakan betapa sederhananya cinta sang kayu kepada api, begitu pula cinta awan kepada hujan. Simpel dan tidak menuntut. Menerima apa adanya. Saya bisa merasakan tulus yang disampaikan. Dan saya beranggapan memang begitulah seharusnya cinta. Syahdu dalam segala kesederhanaan.
Dan saya selalu merasa sedih saat membaca puisi itu. Tiap kali membaca puisi itu. Entah kenapa hati saya luka saat tahu bahwa api tak pernah sadar jika kayu mencintainya, bahwa hujan tak pernah mengerti akan cinta sang awan. Bahwa mereka mencintai tanpa kata-kata, tanpa isyarat. Mencintai dalam diam. Dan saya merasakan ketulusan di dalamnya. Mungkin itu juga yang membuat saya mengetik tulisan ini dalam urai air mata. Saya benar-benar salut. Kagum. Pada kayu. Pada awan. Dan pada penulis yang begitu pintarnya mendefinisikan cinta.
Hanya 34 kata. 6 baris. Dan 2 bait. Sederhana memang. Tapi artinya begitu luas. Saya suka puisi ini. Kagum pada puisi ini. Sampai kapan pun puisi ini akan jadi salah satu puisi favorit saya. Dan sepertinya saya akan tetap berkaca-kaca saat membacanya. Tetap hanyut dalam kesederhanaannya.
Saya ingin menjadi orang yang dapat mencintai secara sederhana. Dalam kesederhanaan. Seperti kayu pada api. Seperti awan pada hujan. Saya ingin mencintai setulus mereka. Semurni mereka. dan kepada bapak Sapardi Djoko Damono, terima kasih telah memeberitahu saya salah satu sudut dari cinta itu sendiri. Bapak berhasil membuat saya menangis saat membaca puisi ini.

Iklan