Entah yang ke berapa

Meja kantor, di sebuah kamis yang cerah. Masih terbayang percakapan kita semalam, dengan tawa yang terselip hampir di setiap akhir kalimat, dan cerita yang tak pernah bikin bosan.

Ya, tembok pemisah itu telah lenyap. Aku kembali menemukan rasa nyaman saat bercerita padamu. seperti dulu. Bahkan aku pun berhenti cemburu pada meja rapat dan berkas-berkas yang telah mencuri waktumu. Aku menemukanmu kembali di sudut hatiku. Ternyata kau tak pernah pergi dari situ, hanya kemarin sedikit bersembunyi dalam kesibukan. Dan kini kau kembali, membawa segepok tawa dan sekantong senyum untukku.

Aku terus mengoceh, tak pernah habis cerita yang bisa kuceritakan padamu, dan kamu tak pernah bosan. Selalu begitu (kecuali di saat-saat kita sedang lelah dan mudah tersinggung satu sama lain). Dan kamu akan terus mendengarkan, sambil sesekali bersuara saat aku bertanya memastikan kamu tak ketiduran di sana. Lalu kamu mulai memutar musik, sayup-sayup terdengar di ujung sana, mengiringi percakapan kita. Band favorit kita, lagu kesukaan kita. Dan kamu mulai sedikit bersenandung. Sepertinya suasana hatimu memang sedang sangat bagus, sudah lama tak kudengar kamu seceria dan segembira itu. Aku pun jadi ikut gembira.

Dan akan kuceritakan sebuah rahasia. Aku berbohong saat bilang punya bonus telepon, walau saat mengucapkannya pun aku tak sadar. Kupikir memang aku mendapatkannya, tapi ternyata tidak. Baru setelah dua menit mendengar suaramu provider telepon selulerku berbaik hati memberikannya. Tiga puluh menit kemudian pembicaraan kita terputus, saat itulah bonus yang kupunya habis tak terasa. Tapi tiga puluh dua menit masih kurang, maka aku berbohong lagi. Kutelpon lagi kamu dua menit untuk mendapatkan tiga puluh menit tambahan. Lalu kita melanjutkan perbincangan sampai aku tak sadar malam makin pekat.

Kamu menanyakan kabar blogku yang kapan hari sempat ditutup paksa tak sengaja. Ya, sudah cukup lama aku tak menulis. Gabungan antara malas dan tak punya waktu. Kamu menyuruhku menulis, aku bilang besok aku masih sibuk. Tapi ternyata tak sesibuk bayanganku. Maka kucuri sedikit waktu untuk menuliskan surat cinta. Entah yang ke berapa.

Tulisan ini untukmu. Tanpa kuberitahu kurasa kau sudah tahu. Sengaja kutulis agar dibaca banyak orang. Supaya mereka tahu, aku sudah punya kamu dan begitu pula sebaliknya.

Dan nanti, kalau aku sudah jadi istrimu, kuharap tiap selepas isya kita punya cukup waktu untuk duduk di teras, atau di depan televisi, atau berkencan makan malam di luar, dan berbincang tentang apa saja yang terpikirkan.

About these ads

30 pemikiran pada “Entah yang ke berapa

  1. Amiiinnnn … Amiiinnn …

    Saya hanya bisa mendoakan … apa yang Amel harapkan di paragraf terakhir itu akan cepat menjadi kenyataan …

    Salam saya

  2. Amiiinnnn … Amiiinnn …

    Saya hanya bisa mendoakan … apa yang Amel harapkan di paragraf terakhir itu akan cepat menjadi kenyataan …

    Salam saya Amel …

  3. ciyehhhh Amelllll… *jadi aku yang senyam-senyum sendiri, inget kelakuan jaman pacaran*
    suka sama paragraf terakhirnya. dan semoga cepat terwujud ya Mel :)

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s