Broken Home Doesn’t Mean Broken Child

Oke, mungkin ga banyak orang yang tahu kalau saya berasal dari keluarga broken home. Iya, broken home. Orang tua saya bercerai saat umur saya kira-kira 4 atau 5 tahunan. Dan hak asuh saya ikut ibu. Makanya saya ga punya cukup banyak kenangan tentang  ayah saya. Yah walaupun sekarang masih kadang suka email-emailan atau chatting, tetep aja berasa asing.

Dari 15 tahun pengalaman saya hidup di tengah perceraian kedua orang tua saya, saya belajar banyak. Makanya saya nulis tulisan ini buat buktiin kalau lahir dari sebuah keluarga yang broken home bukan berarti kita juga nantinya jadi broken child. Ngga, ngga boleh gitu! Saya harap ga ada anak lain yang mengalami kejadian yang sama kayak saya, tapi saya rasa itu ga realistis. Jadi semoga tulisan ini bisa membantu buat kalian yang orang tuanya juga bercerai.

Buat orang tua kalian yang belum bercerai tapi udah mulai ngurus perceraian. Kalian bisa ngomong baik-baik sama mereka kalau kalian ga pingin mereka berpisah. Jelasin kalau kalian butuh mereka berdua. Ngomong baik-baik. Jangan malah cari perhatian dengan cara yang ngga-ngga, misalnya lewat clubbing, mabuk-mabukan, atau malah pake narkoba. Itu justru akan makin merugikan kalian sendiri. Iya kalau ternyata orang tua kalian ga jadi cerai? Kalau ternyata mereka tetap cerai? Pasti kalian justru malah makin terjerumus dan ketagihan sama alkohol dan drugs. Hidup kalian malah makin rusak nantinya. Lagipula orang tua kalian udah cukup merasa gagal sebagai suami/ istri, jangan nambah-nambahin kesedihan mereka dengan perasaan gagal menjadi orang tua. Jangan pernah jadiin drugs dan alkohol sebagai pelarian! Itu cuma bakalan makin ngehancurin kalian.

Next –> Nah buat kalian yang akhirnya ngerasain pahitnya broken home, gue turut berduka. Kalian boleh nangis, boleh marah, boleh ngambek, tapi jangan berlarut-larut. Life must go on, kita boleh sedih tapi ga boleh terus-terusan. Kita harus buktiin kalau kita bisa sukses, kita bisa bangun istana dari puing-puing. Banyak kok orang yang bisa sukses padahal orang tuanya bercerai (dan saya harap saya salah satunya).

Oke, saya ga mau sok menggurui atau sok paling benar.  Saya juga melakukan beberapa kesalahan dan hal-hal bodoh sejak orang tua bercerai kok. Makanya saya ga mau ada yang mengulang kebodohan saya itu. So beberapa kesimpulan yang dapat saya ambil dari 15 tahun hidup saya sebagai anak broken home adalah sebagai berikut:

  1. Jangan pernah salahin orang tua kalian atas perceraian mereka! Pada dasarnyaa ga ada pasangan suami-istri yang pingin bercerai. Mereka pasti udah mengalami saat-saat berat sebelum mengambil keputusan itu. Mungkin kalian ga tahu sebenarnya apa yang membuat mereka bercerai. Tapi pasti ada alasan yang sangat kuat dibalik perceraian itu, suatu alasan yang mungkin kalian ga tahu, tapi yakin deh itu pasti hal-hal yang udah ga bisa dikompromiin lagi. Ingat lho guys, jika pernikahan justru mendatangkan kemudharatan pada keduanya justru dianjurkan untuk bercerai. Mungkin ini yang terbaik buat keluarga kalian. Emang udah jalannya kayak gitu.
    Selain itu, nyalahin orang tua kalian justru bikin proses ‘penyembuhan’ bakal lebih lama. Alangkah lebih mudah bagi kalian buat ikhlas dan tegar.Oh iya, jangan salahin Tuhan juga! Ini cuma ujian dari-NYa, jadi buktiin dong kalau kalian bisa ngelewatin ujian ini!
  2. Jangan pernah ngehancurin kehidupan kalian dengan hal-hal ga bermanfaaat! Ga ada gunanya guys. Ingat! Kalian itu masih punya masa depan yang panjang. Jadi jangan diisi dengan membuat orang tua kalian makin sedih dong! Sebaiknya kalian berusaha meraih kesuksesan. Buktiin kalau kalian bukan orang lemah! Kebahagiaan yang kalian dapat dari alkohol, drugs dan sebangsanya itu cuma semu doang, ga everlasting. Sedangkan kalau kalian sukses, kalian bisa buat orang tua kalian bahagia dan kalian juga pasti bahagia.
  3. Jangan pernah mutusin hubungan dengan orang tua kalian! Oke, kalian boleh marah sama mereka, tapi kalian ga boleh benci mereka. Di dunia ini memang ada mantan istri dan mantan suami, tapi ga akan pernah ada namanya mantan anak. Darah ayah dan ibu kalian akan terus mengalir di tubuh kalian. Ingat! Ga ada orang tua kalian, ga bakal ada juga kalian. Jangan jadi anak durhaka gara-gara masalah ini.Tuhan ga suka sama anak durhaka lho..
    Kalau orang tua kalian ngelantarin kalian, bukan berarti kalian harus balas dengan ngelantarin mereka lho. Kalian tetap harus hormat dan jadi anak berbakti. Kasarnya gini deh, yang penting di hari kiamat nanti kalian bisa pertanggungjawabin kewajiban kalian sebagai anak, masalah nanti orang tua kalian ga bisa buktiin kalau mereka udah jadi orang tua yang baik, ya itu masalah mereka. Tapi alangkah lebih baik, jauh lebih baik, kalau kalian selalu mendoakan agar orang tua kalian diampuni dosa-dosanya.
    Kalau seumpamanya salah satu orang tua kalian melarang menemui ayah/ ibu kalian, kalian jelasin alasannya baik-baik. Bilang aja kalau kalian ga mau jadi anak durhaka. Mereka pasti ngerti kok, saya udah membuktikannya. Pokoknya kita itu harus tetap jaga tali silaturahmi ma orang tua kita.
  4. Jangan pernah menutup diri dari pergaulan! Mungkin kalian malu atau takut diejek karena kondisi kalian. Ga boleh! Ga boleh gitu. Justru kalian mesti tunjukin kalau kalian itu kuat, tegar. Dan percaya deh, kita itu sangat butuh teman untuk mengatasi saat-saat sulit ini. Jadi bergaulah! Temukan kebahagian di luar sana.
  5. Jangan pernah nutup hati kalian pada cinta atau memutuskan ga akan pernah nikah! Saya ngerti kok kalau perceraian itu bikin kita trauma. Tapi bukan berarti kita harus melajang seumur hidup karena takut nanti kalau kita nikah terus akhirnya cerai juga. Kuncinya adalah positive thinking. Coba deh pikir! Harusnya kalian bisa ngambil hikmah dari perceraian yang terjadi di keluarga kalian. Apa yang buat orang tua kalian bercerai? Nah, Jangan ulangin kesalahan itu! Justru dengan jatuh cinta dan nikah, kalian punya kesempatan untuk mendapatkan keharmonisan keluarga yang tidak pernah didapatkan waktu kecil. Sekarang kalian tokoh utamanya, jadilah tokoh utama yang baik. Buktikan kalau kalian ga akan mengulangi kesalahan orang tua kalian! Kalian pasti bisa jadi suami/ istri yang baik. Kalian pasti bisa jadi ayah/ ibu yang lebih baik dari ayah/ ibu kalian. Coba aja kalau ga percaya!
  6. Kalau orang tua kalian nikah lagi, jangan menentangnya!Hey, orang tua kalian juga berhak  bahagia. Harusnya kalian bersyukurkalau orang tua kalian ga trauma sama pernikahan. Gimanapun mereka juga butuh cinta kali. Hal yang tepat buat dilakukan bukan menentangnya, tapi memastikan bahwa orang tua kalian mendapat pasangan yang tepat. Kalau kalian kurang sreg ma calon ayah/ ibu baru kalian, jelasin alasannya baik-baik. Kalian juga punya peran lho untuk mencegah orang tua kalian mengulangi kesalahan yang sama. Lagian kalian ga mau kan dapat ayah/ ibu tiri yang jahat, makanya alangkah lebih baik kalau kalian ambil bagian dalam proses penyeleksian. Jangan justru bersikap masa bodo dan tidak peduli.
  7. Jangan membenci anak (adek kalian) dari pernikahan baru orang tua kalian! Buat apa benci? Bikin cape hati aja. Oke, mungkin wajar kalau kalian iri atau takut tersisih. Tapi percaya deh kalau orang tua kalian itu sayang kalian. Justru kalau kalian nakal ma adek baru kalian, kalian dimarahin lho. Bukan karena mereka ga sayang kalian, tapi karena kalian sebagai yang lebih tua harusnya lebih ngerti. Dan hidup itu akan jauh lebih indah kalau kita saling menyayangi lho. Bagaimanapun kalian kan saudara, separuh gen kalian sama.
  8. Temukan kebahagiaan kalian sendiri!

    Bahagialah! Kunci utamanya adalah syukur dan ikhlas. Ambilah segala hikmahnya dan lupakan segala kesedihan! Kita pasti dapat menemukan kebahagiaan. Percayalah Tuhan lebih tahu apa yang terbaik bagi kita.

Kurang lebih segitu dulu sih. Saya harap tulisan ini membantu kalian. Ayo kita sama-sama buktiin bahwa broken home itu tidak identik sama kenakalan remaja. Kita bisa berhasil kok. Kita bisa bahagia. Yang nentuin masa depan kita itu kita

sendiri lho, orang tua itu cuma satu dari sekian faktor pendukung. Jadi kalau emang ga bisa dapat dukungan orang tua secara penuh, masih banyak faktor pendukung lainnya kok.

Tetap semangat ya teman! Oia, kalau ada yang mau bagi atau tanya pengalaman tentang broken home, silahkan komen..

Hope you have a wonderful life!

About these ads

9 pemikiran pada “Broken Home Doesn’t Mean Broken Child

  1. nice share, saya juga broken heart -_-”
    broken home, hehehe

    yang no. 6 saya pernah melakukannya, walopun akhirnya merelakan ibu saya untuk menikah lagi. yang ke 7 saya bilang ke ibu saya kalo saya gak menginginkannya, bilang ke dia lebih memilih saya ato (calon) adik saya, tapi saya punya alasan untuk ini…

    saya pernah marah, pernah merasa suram, dan selalu galau kalo mengigat hal ini, tapi pada akhirnya hidup memang harus terus berjalan, sudah 6 tahun ternyata…

    saya kagum sama anda, bisa berbagi hal seperti ini ke khalayak, saya cenderung tertutup untuk masalah keluarga. banyak kawan saya mengira saya sebagai anak yg easy going dan jauh dr masalah… baguslah :)

    • Setiap anak yang keluarganya broken home pasti pernah ngalamin masa-masa galau kok. Termasuk saya.

      Saya juga tertutup masalah keluarga, jarang teman saya yang tahu kalau saya broken home. Cuma ya seperti kata saya di atas, saya cuma ingin membantu anak-anak yang orang tuanya bercerai, ya salah satunya dengan berbagi pengalaman.

      thanks udah mau mampir :) Tetep semangat!

  2. Boleh ikut share ya.. :)
    Alhamdulillah,saya sekarang sudah lebih baik dari masa2 dulu yang penuh dengan rasa minder.
    Meski,kadang2 saat lagi down sempet ngerasa sedih dan seperti kembali ke masa seperti dulu.
    Tapi hal itu tidak berlangsung lama.
    Tapi,jujur..point nomor 5 masih sulit.Rasanya masih ada yang mengganjal..gitu :(

Anda Komentar, Saya Senang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s